Senin, 08 April 2013

UBAH DIRI SENDIRI DULU, SEBELUM UBAH DUNIA?

Sudah lama saya mual dengan ujaran yang seolah bijaksana, "Rubah diri sendiri dulu, sebelum mengubah dunia." Dan banyak ujaran lain yang senada. 

Seolah-olah tidak ada yang lebih penting dari kesempurnaan jiwa sendiri. Seakan-akan diri pribadi bisa dipisahkan dengan diri sosial. Memangnya anda bisa sempurna kalau sekeliling anda menderita?

Memangnya kita mau bikin menara gading kita sendiri? Apakah teratai bisa menjernihkan kolam yang busuk?

Kalau saya harus memilih, saya akan memilih menjadi daun busuk yang menyuburkan tanaman di atasnya, daripada menjadi teratai di kolam busuk.
WHAT SO CALLED CIVIL SOCIETY?

Sebagian orang mengatakan bahwa "masyarakat sipil itu ada dari dulu, cuma beda format saja." Tentu saja. Masyarakat Indonesia sudah ada dari jaman dulu. Masyarakat moderen Indonesia mungkin memiliki asal-usul yang sama dengan masyarakat feodal Indonesia. Namun perbedaan antara "moderen" dan "feodal" itu tidak bisa disepelekan karena bisa menandakan perbedaaan yang sangat mendasar. Keduanya memiliki perbedaan karakteristik yang nyata. Untuk menjelaskan "Apa yang dimaksud dengan masyarakat sipil" kita perlu mendiskusikan karakteristik2 itu.

Wikipedia menjelaskan civil society melalui penelusuran sejarah social thoughts. Di situ ada anggapan bahwa pemikiran ada dulu sebelum masyarakatnya muncul. Saya punya anggapan lain, masyarakatnya terbentuk dulu baru kemudian pemikirannya.

Jadi. bukan ada pemikiran Marx dulu baru kemudian ada pertentangan kelas dalam masyarakat. Sebaliknya ada pertentangan dalam masyarakat dulu, kemudian diteoretisasi oleh Marx sebagai class conflict.

Secara umum, Marx mencoba menjelaskan proses evolusi sosial sebagai proses yang dipandu oleh pertentangan kelas. Dalam kenyataannya Marx sulit menjelaskan apakah 'kelas' itu, dan mengidentifikasi keberadaan 'kelas sosial' itu dalam masyarakat tua (archaic). Akibatnya, ia pun sulit menjelaskan proses evolusi "kelas" sosial.

Menurut saya proses evolusi sosial digerakkan oleh kekuatan diferensiasi. Diferensiasi atau division of labor adalah kekuatan yang telah disinyalir oleh Durkheim (sosial), Smith (ekonomi), Ricardo (international trade), sebagai menentukan perubahan sosial. Kekuatan itu sebelumnya telah diuraikan oleh Darwin sebagai penentu evolusi spesies. Kekuatan diferensiasi muncul sebagai respon terhadap kompleksitas sosial.

Pada dasarnya proses evolusi sosial mengurai masyarakat menjadi komponen2 yang mengemban fungsi yang sangat spesifik. Begitu spesifik, sehingga dapat dikatakan setiap komponen itu beroperasi dalam kerangka biner. Masy politik bekerja dalam biner berkuasa/tidak berkuasa, masy hukum bekerja dalam biner legal/illegal, untung/rugi (ekonomi), benar/salah (sains), baik/buruk (teologi, filsafat).

Dan terakhir, yang sedang dalam proses pembentukan, adalah masyarakat sipil. Apa fungsi dan perannya secara spesifik, atau kerangka biner apa yang dilayaninya? Dalam hemat saya, masyarakat sipil memiliki fungsi sebagai perekat. Asosiasi2, NGO, NPO, yang berkembang pesat, berusaha mengangkat isu-isu yang berada di luar perhatian komponen masyakat lain. Misalnya PKBI mencurahkan perhatian dalam perencanaan keluarga; lingkungan hidup (Walhi); bantuan hukum (LBH); korupsi (ICW); karitatif (Lions Club); wacana (facebook group, group discussion); people communication (tweeter group, bb group), homoseksualitas (Gaya Nusantara), dst.

Fungsi pokok masyarakat sipil adalah merekatkan, menyatukan masyarakat agar bisa mengatasi masalah2 yang ada di dalam masyarakat itu sendiri, dalam hubungannya dengan masyarakat lain, maupun dengan lingkungannya.

Secara umum masyarakat sipil membeberkan tanggung-jawabnya terhadap kelangsungan hidup suatu masyarakat. Dengan kata lain, masyarakat sipil bekerja dalam kerangka biner: sustainable/unsustainable.


WHAT SO CALLED CIVIL SOCIETY?

Sebagian orang mengatakan bahwa "masyarakat sipil itu ada dari dulu, cuma beda format saja." Tentu saja. Masyarakat Indonesia sudah ada dari jaman dulu. Masyarakat moderen Indonesia mungkin memiliki asal-usul yang sama dengan masyarakat feodal Indonesia. Namun perbedaan antara "moderen" dan "feodal" itu tidak bisa disepelekan karena bisa menandakan perbedaaan yang sangat mendasar. Keduanya memiliki perbedaan karakteristik yang nyata. Untuk menjelaskan "Apa yang dimaksud dengan masyarakat sipil" kita perlu mendiskusikan karakteristik2 itu.

Wikipedia menjelaskan civil society melalui penelusuran sejarah social thoughts. Di situ ada anggapan bahwa pemikiran ada dulu sebelum masyarakatnya muncul. Saya punya anggapan lain, masyarakatnya terbentuk dulu baru kemudian pemikirannya.

Jadi. bukan ada pemikiran Marx dulu baru kemudian ada pertentangan kelas dalam masyarakat. Sebaliknya ada pertentangan dalam masyarakat dulu, kemudian diteoretisasi oleh Marx sebagai class conflict.

Secara umum, Marx mencoba menjelaskan proses evolusi sosial sebagai proses yang dipandu oleh pertentangan kelas. Dalam kenyataannya Marx sulit menjelaskan apakah 'kelas' itu, dan mengidentifikasi keberadaan 'kelas sosial' itu dalam masyarakat tua (archaic). Akibatnya, ia pun sulit menjelaskan proses evolusi "kelas" sosial.

Menurut saya proses evolusi sosial digerakkan oleh kekuatan diferensiasi. Diferensiasi atau division of labor adalah kekuatan yang telah disinyalir oleh Durkheim (sosial), Smith (ekonomi), Ricardo (international trade), sebagai menentukan perubahan sosial. Kekuatan itu sebelumnya telah diuraikan oleh Darwin sebagai penentu evolusi spesies. Kekuatan diferensiasi muncul sebagai respon terhadap kompleksitas sosial.

Pada dasarnya proses evolusi sosial mengurai masyarakat menjadi komponen2 yang mengemban fungsi yang sangat spesifik. Begitu spesifik, sehingga dapat dikatakan setiap komponen itu beroperasi dalam kerangka biner. Masy politik bekerja dalam biner berkuasa/tidak berkuasa, masy hukum bekerja dalam biner legal/illegal, untung/rugi (ekonomi), benar/salah (sains), baik/buruk (teologi, filsafat).

Dan terakhir, yang sedang dalam proses pembentukan, adalah masyarakat sipil. Apa fungsi dan perannya secara spesifik, atau kerangka biner apa yang dilayaninya? Dalam hemat saya, masyarakat sipil memiliki fungsi sebagai perekat. Asosiasi2, NGO, NPO, yang berkembang pesat, berusaha mengangkat isu-isu yang berada di luar perhatian komponen masyakat lain. Misalnya PKBI mencurahkan perhatian dalam perencanaan keluarga; lingkungan hidup (Walhi); bantuan hukum (LBH); korupsi (ICW); karitatif (Lions Club); wacana (facebook group, group discussion); people communication (tweeter group, bb group), homoseksualitas (Gaya Nusantara), dst.

Fungsi pokok masyarakat sipil adalah merekatkan, menyatukan masyarakat agar bisa mengatasi masalah2 yang ada di dalam masyarakat itu sendiri, dalam hubungannya dengan masyarakat lain, maupun dengan lingkungannya.

Secara umum masyarakat sipil membeberkan tanggung-jawabnya terhadap kelangsungan hidup suatu masyarakat. Dengan kata lain, masyarakat sipil bekerja dalam kerangka biner: sustainable/unsustainable.


MENGAPA PEMILIHAN LANGSUNG?

Anda ingin pemimpin yang anda pilih sendiri atau yang ditunjuk orang untuk anda? Di seluruh dunia sekarang bergerak menuju demokrasi, saya heran kalau di sini bergerak ke arah sebaliknya. Apa artinya 43rb per lima tahun untuk menimba aspirasi masyarakat? Untuk memberi arti sesungguhnya pada kedaulatan rakyat? Apa anda belum puas 32 tahun hidup dengan pemimpin2 yang ditunjuk oleh orang lain?

Reformasi memang belum memberi kesejahteraan, tetapi itu bukan urusan demokrasi. Orang mau sejahtera harus kerja baik. Kalau kerjanya tidak baik lantas tetap miskin jangan salahkan demokrasi.

Demokrasi hanya menciptakan syarat agar semua orang diperlakukan adil. Kalau sekarang anda bisa bersuara bebas, mungkinkah itu terjadi 25 tahun lalu? Betapapun kuatnya politikus, mereka sekarang sudah mulai gentar kepada public opinion. Itu langkah awal agar politikus dan para pemimpin berjalan di atas dasar keadilan. Jalan memang masih panjang tetapi perlahan2 kita mewujudkan negara yang kuat, yaitu negara yang maju dan sejahtera di atas dasar masyarakat yang berkeadilan.
PEMERINTAHAN MACAM APA INI?

Baru sekarang saya tahu ada pemerintahan yang sudah putus-asa kepada petaninya sendiri. 

Untuk meningkatkan produksi beras, alih-alih memberdayakan petani Indonesia, pemerintah malah bertani di negeri orang. Dia pikir Indonesia tidak punya lahan, tidak punya petani. Atau, mereka sebetulnya berkeinginan agar petani-petani itu enyah saja. Sudah bosan mengurus barangkali. Lebih cepat petani Indonesia mati lebih bagus.

Padahal luas daratan Indonesia 192 juta ha, terbagi atas 123 juta ha kawasan budidaya dan 67 juta ha kawasan lindung. Dari total luas kawasan budidaya, yang berpotensi untuk areal pertanian seluas 101 juta ha, meliputi lahan basah 25,6 juta ha, lahan kering tanaman semusim 25,3 juta ha dan lahan kering tanaman tahunan 50,9 juta ha. Sampai sekarang, dari areal potensi pertanian tersebut, baru dibudidayakan menjadi area pertanian 47 juta ha, sehingga masih tersisa 54 juta ha.

Area pertanian kita yang belum diolah hampir 5 kali lipat luas lahan pertanian Myanmar yang 10,6 juta ha.

Petani kita 42 juta orang (2010) menguasai tanah sangat kecil, rata2 0,26 ha (2003) menyusut menjadi 0,17 ha dalam satu dekade ini. Bila 54 juta ha lahan tani tersisa bisa diolah maka ia bisa menghidupi 27 juta petani dengan rerata penguasaan lahan 2 ha/orang.

Dalam kondisi seperti di atas, pemerintah Indonesia ingin bertani di negeri orang. Pakai uang rakyat, mengabaikan lahan luas yang belum diolah, mengabaikan puluhan juta petani yang tidak memiliki tanah.

Pemerintahan macam apa ini?

http://finance.detik.com/read/2013/03/14/150031/2193993/4/genjot-produksi-beras-ri-buka-lahan-baru-ke-myanmar-dan-kamboja?f9911013
Facebook,7/4/2013
DISKUSI

Berdiskusi adalah jalan terbaik menemukan pengertian bersama, ketimbang perang. Pengertian bersama tidak berarti pengertian tunggal. Kebersamaan di sini berarti sama2 lebih mengerti tentang siapa diri dan siapa lawan diskusi. Untuk mencapai pengertian yg lebih mendalam, diskusi kadang2 sangat sengit. Betapapun sengitnya diskusi tidak membunuh. Ini cara yang jauh lebih beradab daripada beberapa waktu lalu ketika semua perbedaan diselesaikan dengan perang, pembunuhan (inkuisisi) dan pengasingan (ekskomunikasi).

Yang mengerikan dalam diskusi bukan kesalahan dalam tata-cara, adab dan kesantunan diskusinya. Itu cuma sampiran, karena arti penting diskusi terletak pada originalitas dan validitas argumennya. Apakah diskusi itu tidak melahirkan solusi atau melulu membahas kelemahan/kekurangan, tidak menjadikan diskusi tidak berguna. Eksploitasi kelemahan dan mencari solusi hanya topik diskusi, bukan suatu syarat intrinsik diskusi yang bernas.

Yang mengerikan dalam diskusi adalah ketika para pihak beranggapan bahwa argumennya adalah argumen Tuhan. Oleh karena itu argumen lawan, tidak bisa lain, adalah argumen setan. Mereka itu pendusta karena membohongi kenyataan bahwa Tuhan tidak terlibat dalam diskusi itu. Tuhan tidak berkata apa2. Bahkan hati pun tidak berkata apa2. Semua pembicaraan adalah pembicaraan akal. Akal sedang menginterpretasi apa kata Tuhan, apa kata hati.

Kengerian dalam diskusi adalah bila ada kekerasan dan pemaksaan kehendak. Dalam hal tersebut sudah tidak ada diskusi. Yang ada adalah politik, yaitu upaya orang mendominasi orang lain.
DISKUSI

Berdiskusi adalah jalan terbaik menemukan pengertian bersama, ketimbang perang. Pengertian bersama tidak berarti pengertian tunggal. Kebersamaan di sini berarti sama2 lebih mengerti tentang siapa diri dan siapa lawan diskusi. Untuk mencapai pengertian yg lebih mendalam, diskusi kadang2 sangat sengit. Betapapun sengitnya diskusi tidak membunuh. Ini cara yang jauh lebih beradab daripada beberapa waktu lalu ketika semua perbedaan diselesaikan dengan perang, pembunuhan (inkuisisi) dan pengasingan (ekskomunikasi).

Yang mengerikan dalam diskusi bukan kesalahan dalam tata-cara, adab dan kesantunan diskusinya. Itu cuma sampiran, karena arti penting diskusi terletak pada originalitas dan validitas argumennya. Apakah diskusi itu tidak melahirkan solusi atau melulu membahas kelemahan/kekurangan, tidak menjadikan diskusi tidak berguna. Eksploitasi kelemahan dan mencari solusi hanya topik diskusi, bukan suatu syarat intrinsik diskusi yang bernas.

Yang mengerikan dalam diskusi adalah ketika para pihak beranggapan bahwa argumennya adalah argumen Tuhan. Oleh karena itu argumen lawan, tidak bisa lain, adalah argumen setan. Mereka itu pendusta karena membohongi kenyataan bahwa Tuhan tidak terlibat dalam diskusi itu. Tuhan tidak berkata apa2. Bahkan hati pun tidak berkata apa2. Semua pembicaraan adalah pembicaraan akal. Akal sedang menginterpretasi apa kata Tuhan, apa kata hati.

Kengerian dalam diskusi adalah bila ada kekerasan dan pemaksaan kehendak. Dalam hal tersebut sudah tidak ada diskusi. Yang ada adalah politik, yaitu upaya orang mendominasi orang lain.